Sampai sebatas mana?
Ambil tulisan itu! Ambil kertas yang kamu buang! Ambil kertas berisi tulisan yang kamu buang itu!
Kata-kata itu terlontar dengan nada yang naik setiap kalimatnya. Terakhir saya berkata,
Ambil sekarang!
Dengan muka tidak tersenyum dan seserius namun setenang yang saya bisa. Saya memang ingin menunjukkan bahwa saya marah tegas dalam hal itu. Tidak sembarangan, samasekali tidak sembarangan. Saya mengatakan itu karena saya menganggap “dia” sudah dewasa dan sudah mengerti bahwa tindakan “membuang kertas” yang dia lakukan itu tidak pada tempatnya. Bukan pada waktunya. Bahwa memang sudah bagiannya untuk membacakan yang dia tulis, sama seperti teman-temannya. (Memangnya bagaimana saya harus menjelaskan pada teman-temannya yang lain jika saya ijinkan dia untuk tidak membacakan tulisannya? Mengapa teman-temannya tetap harus membacakan tulisan mereka?). Tapi ternyata, sekarang dia tak mau menyapa saya!
Terakhir saya berkata,
Ambil kertas itu sekarang, Yus! Ambil sana!
Kali ini dengan suara yang lebih lunak dan sengaja saya tambahkan namanya di belakang kalimat saya. Setelah dia ambil, Saya? Ya tersenyum lagi dan becanda-becanda lagi seperti biasa dan berbuat seolah tidak ada apa-apa. Tapi tetap saja…
Apakah penghargaan yang saya berikan terhadapnya kurang?
Atau… mungkin dia belum pantas mendapat penghargaan itu?
Atau… saya yang belum pantas memberikan penghargaan itu?
…






Leave a Reply