Mei 9, 2008
a log for my friend…
Posted by tutu1ng under TUHAN, motivasi, realita, senandung | Tag: kanker, penyiar, radio |Menyerahkan segala sesuatunya kepada TUHAN
tidak berarti kita kehilangan semuanya,
ini hanya berarti
kita tidak bisa menerima sesuatu
selama tangan kita masih menggenggam
yang lain
Tak disangka-sangka teman saya sekarang jadi penyiar di salah satu radio web. Kata-kata di atas adalah kata-kata yang baru saja ia bagikan, baru saja. Saat ini adalah saat pertama saya mendengarkan siarannya dan pasti akan ada saat kedua, ketiga, keempat, … (hm hm hm).
Divonis kanker satu tahun yang lalu, dia meninggalkan kuliahnya di sini, di Bandung, di Teknik Industri ITB. Tidak murah harga yang telah dibayar untuk masuk ke sini, minimal 45 juta rupiah harus “deberikan” untuk masuk melalui USM (Ujian Saringan Masuk) ITB. Yang lain? Banyak. Biaya pengobatannya, biayanya untuk berpindah ke Singapura, biaya hidupnya di Singapura, biaya operasi, biayanya untuk berpindah ke Amerika, biayanya untuk tinggal di Amerika, biayanya untuk hidup di Amerika. Seperti tak habis-habis tangan TUHAN yang lembut ‘menghajar’ dia.
Pertama kali mendengar dia akan pergi ke Singapura karena ada ‘sesuatu di kepalanya’, saya ‘shock’. Ada aktivitas ‘denying‘ dalam diri saya. Saya dengan sadar dan santai serta sambil cengengesan berkata pada adik-adik kelas saya dan kepada salah satu abang rohani saya, “Alah, belom tentu juga ada apa-apa, dia cuma mau jalan-jalan aja ke Singapore doank kali.” Dan dengan kesantaian dari kesadaran yang sama besarnya saya berkata pada diri saya sendiri, “kenapa dia ya Yus? Aduh, jangan sampe ada apa-apa.” Dan saya ‘bertanya-tanya pada TUHAN saya’.
Saya tidak pernah tahu seberapa besar keterkejutan dia ketika mengetahui penyakit yang dideritanya. Tidak, dia tidak pernah mengatakan apa-apa. Atau, bagaimana dia bergumul dan ‘berhadapan’ dengan TUHAN, saya tak akan pernah punya petunjuk apa-apa.
Keadaan berubah menjadi sangat buruk ketika saya dan teman-teman menjenguknya. Saya sangat ‘shock’ melihat keadaannya, melihat tubuhnya, melihat kepalanya. Sepulang dari sana saya menelepon seorang teman saya dan sambil terduduk saya menceritakan semuanya dengan getir, termasuk perasaan dan ketakutan saya. Beberapa jam sebelumnya, saat masih berada di rumah sakit, seorang teman saya yang lain berkata pada saya, “Kenapa… gue punya pikiran aneh sih? Gue ngerasa… ini terakhir kalinya gue ngeliat dia.” Jawab saya? “Hah, biasa lo takut, kita takut, tenang aja man.” Sembari diri saya yang lain kelimpungan mencari sesuatu untuk dipegang, “siapapun, please make standing tall.”
Dokter-dokter di sekitar saya juga tidak membantu, “tinggal 3 bulan lagi”, “satu bulan”, “oh, paling lama juga satu tahun.”, bahkan baru jadi seorang calon dokter pun, “sori, tapi setau gue, ga bisa lagi…” huh, terimakasih banyak.
Tapi sekarang semuanya sudah berlalu, meneguhkan, “rencana TUHAN adalah yang terindah dan terbaik.”menyisakan, ‘dia’ yang seperti dulu, ‘dia’ yang lucu, yang garink, yang gugup, yang bersemangat, yang dosis kemoterapinya dikurangi
sayup-sayup di belakangku, dari situs itu,
Tiada yang mustahil, dan tiada yang sukar
Bila Roh Allah turut bekerja,
Tiada yang mustahil bagi orang percaya
Karena Roh Allah turut bekerja di antara kita.

Mei 27, 2008 at 5:05 pm
Yus,,
two thumbs for you bro..
sy sampai tertegun,begitu terkesima dan sempat menitikkan airmata membaca tulisan kamu ini. Kembali mengingatkan kita pada sosok yang selalu menghibur.Juga merupakan motivasi bagi saya juga untuk selalu belajar,karena beliau selalu menganggap kalo abg PAnya bisa menjawab smua pertanyaannya.
dia pergi begitupun juga hasrat saya untuk selalu belajar,hilang bener2 hilang…
kata pembuka yang menarik dan ditutup dengan untaian kalimat yanh indah..
Miss u all guys..
GBU
Mei 28, 2008 at 11:51 pm
@astagayuk,
thank you. Most important is, he’ll live and we’ll see him again someday, here on earth… S’mangat Bang!