Jump!!

Flat photo

Minggu malam, 28 Januari 2008. Aku berjalan sendirian menuju ke Gerejaku untuk mengambil motorku yang ada di sana.

Aku baru saja pulang dari GPIB Bethel, tempat aku bernyanyi memuji TUHAN bersama paduan suara “Eklesia”. Sebuah paduan suara gabungan antara pemuda-pemuda GPIB Bethel, Bandung dan Gerejaku, GPIB Imanuel, Cimahi. Dua belas jam sebelumnya, aku dan empat puluhan anggota paduan suara Eklesia sedang berada di atas sebuah bus, dalam sebuah perjalanan menuju ke Bekasi. Di Bekasi, kami bernyanyi memuji TUHAN, membawakan tiga buah lagu yang, bagiku, cukup amburadul untuk orang-orang seperti kami, tapi pasti hasilnya cukup lumayan untuk didengarkan.

Jadi, aku ke Gereja dua kali. Karena setelah aku dan teman-temanku bernyanyi di GPIB Jatipon, Bekasi, kami segera pulang ke Bandung dan membawakan satu buah lagu lagi di GPIB Bethel, Bandung. Setelah selesai berpesta, kami pulang. Aku memilih naik angkot bersama beberapa orang temanku. Sampai kemudian , aku berjalan sendirian dari tempat pemberhentian angkot menuju ke Gerejaku untuk mengambil motorku yang tadi pagi kutitipkan di sana.

Aku melewati rumah-rumah. Ya, aku berjalan di antara pemukiman penduduk sampai pada suatu waktu aku melewati sebuah jembatan.

Aku melewati sebuah sungai. Airnya cukup deras.

Tahu apa yang ada di pikiranku? Ya, bunuh diri.

Sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku melompat ke sungai itu.

Suaranya yang begitu deras sangat luar biasa. Dan kegelapannya, sungguh memikat. Beberapa buih ada di sana. Beberapa buih hanyut dan, sepertinya, akan menyenangkan bagiku jika aku ikut hanyut bersama buih-buih itu. Hanyut dan tidak memikirkan apapun. Tenang, hanyut dalam kegelapan, bersama buih-buih, hanyut sampai ke hilir. Di mana mungkin orang-orang akan menemukanku dan berteriak-teriak.

Hanyut dengan mata terpejam. Hanyut dengan begitu damai. Hanyut dalam kegelapan. Tapi, bukankah itu akan terasa dingin? Itu tidak masalah. Hanyut, dan terus hanyut. Bergerak dengan pasti, dinyamankan dalam ombang-ambing gelombang. Dengan mata terpejam, dalam ketenangan, dalam kegelapan. Nyaman tanpa harus melihat apa-apa.

Mungkin karena aku kebelet pipis. Atau mungkin karena aku sedang asyik SMSan dengan seseorang yang aku sayangi, aku tak tahu.

Aku masih hidup dan menulis kisah ini.

Aku tidak jadi mati. Apakah rasa sayangku yang begitu kuat, ataukah hanya insting seorang manusia yang benar-benar membutuhkan kamar mandi? Aku tak tahu.

Satu yang aku tahu, saat itu aku sedang “berbicara” dengan seseorang yang aku kasihi dan sayangi. Kegelapan dan suara air itu sungguh memikatku, sangat memikatku, benar-benar memikatku. Tapi, aku berbicara dengan orang yang aku sayangi. Orang yang membuatku ingin terus hidup untuk menghabiskan sisa waktuku bersamanya. Orang yang membuatku ingin menghabiskan seribu tahun di sampingnya.

Lalu, di manakah TUHANku?

Dia ada di sana, tapi aku tak bisa memastikan dia ada di hatiku, di pikiranku, atau di rencanaku. Satu yang aku tahu, setelah itu, setelah aku memikirkan wanita yang kukasihi dan menyadari aku ingin terus hidup bersamanya, timbul pertanyaan dalam hatiku, “Lalu di manakah TUHANmu?”

Dia ada di sana.

Ketika aku berdiri di tepi jembatan itu, ketika aku melihat ke bawah, ketika aku meyakini hanya tiga meter jarakku dengan air di bawahku, aku menyadarinya. Aku menyadari mengapa orang bisa mengakhiri hidupnya dengan melompat ke sana. Mereka merasakan yang aku rasakan. Keinginan untuk melompat ke sana. Aku ingin melompat. Benar-benar ingin. Sangat ingin melompat. Di sana gelap, tidak ada yang akan menemukanku, Aku hanya tinggal diam saja dan menikmati ke mana air membawaku. Dan semakin lama aku melihat ke sana, aku semakin ingin melompat. Ya, aku INGIN, bahkan SANGAT INGIN melompat.

Mengakhiri saja hidupku. Semuanya berhenti.

Tapi dia begitu cantik dan aku ingin melihatnya lagi. Ingin mengbrol lagi. Ingin mengenalnya lebih lagi.

Tapi, “Di manakah TUHANmu, Yus?”

Perasaan itu sangat mengerikan. Terrible if I can say. Perasaan “ingin mengakhiri saja hidupmu”.

Tapi, “TUHANku ada di sana.”

DIAlah yang mengirimkan bidadari kepadaku. DIAlah yang membuat aku merasa, “harus ke kamar mandi.” DIAlah yang membuat aku SMSan. Dialah yang membuat aku tetap hidup sampai saat ini. Bahkan, DIAlah yang menghidupkan aku kembali.

Ya, DIA cuma ada di sana dan melakukan hal-hal itu.

Entah sampai kapan. Mungkin, hanya “selama-lamanya”.

End of log.

~ by tutu1ng on February 19, 2008.

4 Responses to “Jump!!”

  1. Jadi pada intinya, siapa nama bidadarimu itu yus? koq dari 2 posting (yg ini dan sebelumnya) kamu terobsesi bgt dgn bidadari itu? :D

  2. @ Mikha: Biar waktu yang menjawabnya Mikh. :p

  3. sebaiknya loe jalani hidup loe bersama Tuhan . dan kuatkanlah iman loe

  4. @NN: thanks :) .

Leave a Reply