Sentimental, melayani
uhhhhhhh….
Bentar lagi mo kuliah, malah jadi sentimental…hehe..hah…
Salam buat bidadariku nan cantik di sana…
Hari ini, saya membuka notebuk baru saya (hehe). Di dalamnya masih kosong banget. Karena kosong banget, kemaren saya ngopi banyak banget isi portable HD-nya Bang Randd. Saya kopi tanpa melihat. Di antara hal-hal yang saya kopi tanpa melihat itu, ada sebuah ketikan yang ikut terkopi. Sebuah ketikan berjudul “Dedication Service”. Sebuah ketikan yang merupakan ‘Renungan Puncak’ dari Retret 2008. Sebuah ketikan yang ketika retret dibacakan dengan backsound yang sangat-sangat syahdu. (kamana atuh syahdu).
M : Ver, main tebak-tebakan yuk!
V : Boleh, siapa takut?
M : Coba tebak, apa yang paling berharga di dunia ini?
V : Uumm.. Kekayaan mungkin?
M : Yaah.. Salah!
V : Kepinteran bukan?
M : Aduuh, bukan Vera!
V : Terus apa dong? Masa cowok cakep?
M : Ya bukanlah! Cape deh Ver..!
…
V : Iya yah.. dan kita juga sebagai anak-anakNya yang harusnya bikin Dia seneng, malah seringnya menyakiti hatiNya. Tuhan Yesus gak minta apa-apa ko dari kita. Dia Cuma minta waktu kita. Ini nih buktinya.
M : Apaan nih Ver?
V : Surat. Baca aja!
–
Halo SahabatKu…
Bagaimana kabarmu?
Aku menulis surat ini, karena Aku ingin kamu tau kalau Aku sangat merindukanmu..
Kau tau? Setiap hari.. mmhh.. tidak, setiap saat Aku selalu menantimu untuk berbicara denganKu.
Pagi hari, ketika kau bangun, hatiKu langsung berdebar-debar,
Aku pikir inilah saatnya, setelah semalaman Aku terus menunggu, inilah saatnya kau berbicara padaKu!
Loh?? Ternyata kau langsung mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah..
Akupun menyertaimu ke sekolah sambil menunggu… Yaa, kalau-kalau kau mau menyapaKu.
Tapi kau sibuk belajar… Aku tunggu sampai istirahat…
Tetap hanya penantian yang Kudapat. Kau makan dan sibuk bermain dengan teman-temanmu.
Sampai akhirnya kau pulang, Aku tetap menunggumu.. menantimu..
Tapi tetap kau sibuk dengan membuka buku dan menonton TV. Bahkan pikiranmu.. pikiranmu pun tidak!
Larut malam, kegiranganKu muncul waktu kau tutup buku dan mulai tutup mata di kursi belajarmu.
Ternyata kau hanya lelah.
Kau tau? Banyak sekali yang ingin Kubicarakan padamu saat ini… Banyak.
Aku selalu menunggumu untuk berbicara padaKu..
Aku hanya ingin sedikit waktu darimu, supaya Aku bisa mengatakan, betapa Aku sangat mengasihimu…
Sahabatmu,
Yesus.
–
Jadi teringat waktu dulu melayani. Membayangkan mereka [2008] kecapekan, bingung, kesel, ribet ngerjain ini-itu nyiapin ret2. Ngebayangin Krisma (yang ngarang renungan ini keknya) mikirin renungan ini. “Gimana caranya supaya meaningful?”, pikirnya (kayaknya, hehe sotoy). Padahal sekolahnya lagi bikin capek banget. Padahal PRnya udah aneh banget. Padahal pembicara ret2nya aja belom pasti. Padahal duitnya aja belum cukup. Ngebayangin anak-anak dah sebodo teuing ma studinya. Padahal ret2nya aja sebenernya belon jelas2 banget. Padahal, kalo dibandingin sekolah, jelas secara rasional, sekolah lebih penting. Padahal, udah ngerasain tekanan batin, tekanan mental, tekanan fisik (naon deui), tekanan waktu (hahah udah makin aneh), dan tekanan-tekanan yang lainnya.
2006 juga… begitu…
2006 juga…
Begitu…
Hari-hari itu tentunya sudah berlalu. Sekarang kami, kita semua, melanjutkan hidup. Melanjutkan mengejar cita-cita kami. Melanjutkan menjadi dokter, menjadi insinyur, ahli desain, businessman, n cita-cita yang lain-lain lagi. Jalan kami sudah terpisah. Kami sudah lewati persimpangan itu, dan kami sudah memilih jalan kami, jalan kami masing-masing. Dan apakah kami satu seperti dulu lagi? Tidak juga. Apakah kami bersama-sama lagi? Tidak juga. Apakah kami punya satu visi seperti dulu lagi? Of course not! Akankah kami bersama-sama lagi? Mengerjakan sesuatu? Menaruh sebuah visi? Sebuah misi? Sebuah tujuan? Target? Atau bahkan, tanggal yang sama untuk sebuah pekerjaan bersama? Mungkin. Tapi satu yang pasti, kami pernah bersama-sama mengerjakan sesuatu. Belajar, marah, kesal, bingung, takut, cemas, tabah, kuat, lemah, berani, nyolot, sedih, senang, menangis, tertawa, penasaran, mengerti, bahagia, dan tenang, bersama.
Dan seperti semua cerita lain. Cerita itu sudah tidak terjadi lagi, tapi cerita itu akan tetap seperti itu. Dengan semua kecacatannya, dengan semua keindahannya, dengan semua kesempurnaannya, dengan semua keburukannya.
Hmmm… kenapa harus jadi sentimental seperti ini? ^^’
Tuhan berkati,
End of log
Possibly related posts: (automatically generated)
~ by tutu1ng on February 12, 2008.
Posted in sentimental
Tags: angkatan, listen, melayani, sentimental






ikutan sentimental ah
Mikha said this on February 12, 2008 at pm 4:04 |
@mikha…hyuk, tapi jangan ters2an ya…hehe
tutu1ng said this on February 20, 2008 at am 11:25 |
Waduh,,,,
gile si Vera,,,ck….ck…
masa harta paling berharga adalah cowok ganteng???
hwahahahaha
menurut gw yang paling berharga ntu iman kita,,,hwehwhwehehe
modal idup di dunia n kepastian masuk surga tuh,,,
K'Youri said this on April 7, 2008 at pm 3:14 |