Kenangan, merupakan suatu yang diukir dengan tinta berwarna. Warnanya akan lenyap bersama sang waktu, namun tidak ukirannya.
Yang pertama adalah di KFC. Saat itu, di tubuhnya melekat kaus putih berkerah dan celana tiga per empat. Kami duduk di sana, memesan sepotong ayam karena aku sendiri sudah makan. Di sanalah aku tahu dia tidak suka junk-food. Dan aku mengutuki kebodohan diriku yang mengajaknya ke fast-food restaurant.
Kemudian berlanjut dengan GII, GKPI, dan GPIB. Berhenti. Dan berlanjut lagi. Dan berhenti lagi.
Filmnya bagus sekali. Luar biasa. Dia sangat cantik. “Mendadak cantik ya?”, begitu komentar sahabatku ketika aku menceritakannya, ada-ada saja. Lalu, lukisan-lukisan itu juga luar biasa. Meskipun “harus” mendengarkan “khotbah”, aku menikmatinya. Bagiku itu bukan khotbah, hanya TUHAN yang berbaik hati mengingatkanku untuk mempercayai mimpi-mimpiku. Seperti saat ini.
Ketika akhirnya apa yang dihatiku terucapkan. Ketika akhirnya dia mau berbaik hati membuka sedikit rahasianya untukku. Saat itu dia tidak lagi menjadi “yang tak dapat kumengerti”. Ternyata dia sangat sederhana. Sangat cantik. Dan sangat mudah dimengerti. Bukanlah sosok yang membuat semua orang bingung. Tidak, dia sangat menyenangkan, karena akhirnya aku tahu, betapa mimpinya sangat sederhana dan murni.
Terimakasih mau membaginya denganku. Sedikit rahasia itu.
Terimakasih mau membaginya denganku. Sedikit rahasia itu.
Ketika aku tahu betapa bodohnya aku, aku mencaci diriku sendiri dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang ada dalam hatiku. Tetapi dia di sana, memandangku.
Aku berdoa untukmu, bidadari. Untuk setiap mimpi-mimpimu. Untuk setiap cita-cita dan harapanmu. Untuk setiap kebaikan yang akan menghampirimu. Mungkin, bukan aku yang akan menghadirkan tiap mimpi indahmu. Namun, jika TUHAN berbaik hati, akulah orang yang beruntung itu. Aku hanya ingin melihat senyum terus melekat di wajah indahmu.
Aku di sini, berbenah diri sampai tiba waktunya selesai kuberbenah. Dan waktu itu sebentar lagi. Sementara itu, aku tak akan berkuasa membuat pikiranku tak memperhatikanmu.
Aku berdoa untukmu, semoga dirimu berbahagia.
Untuk seorang bidadari yang sedang menunggu pangeran berkuda putihnya. “Jangan berhenti percaya mimpi”
Semoga senyum tetap melekat di wajah indahnya.






Latest responses