Buku bahasa Indonesia menyebutnya sebagai tempat bernaung dan berlindung dari panas dan hujan.
Yang lain menyebutnya tempat untuk pulang. Pulang? Pulang darimana? Kantor?
Saya pernah bertukar pandang dengan seorang sahabat tentang ini. Saat itu kami membahas, “kenapa komunitas kita ini selalu diingat dan orang-orang ingin kembali kesini?”
Sejauh yang masih bisa saya ingat, kami berdua setuju bahwa komunitas kami mengampuni, dan mau menerima kembali. Selalu ada yang tersenyum dan menyambut seorang yang lelah dari berjalan jauh. “Seperti pulang ke, rumah”, begitu kesepakatannya hari itu. Meskipun, agaknya, tempat yang tadinya saya sebut “seperti rumah” itu sekarang terasa lebih seperti tempat singgah, dengan sejuta gantungan kenangan di dindingnya, tapi bukan lagi milik saya.
Jadi, apakah gerangan?
Agaknya hari ini saya menemukan jawaban yang agak lebih pas, paling tidak, untuk saya sekarang ini, dengan semua yang telah saya lalui.
… Ternyata sampai hari ini saya masih waras. Saya rindu pantai. Tapi pantai tidak perlu jadi rumah saya. Rumah adalah tempat di mana saya dibutuhkan…
Dan saat nanti ada yang membutuhkan saya, hanya saya di dunia ini. Itu rumah.
Bubi Chen All Stars – The Nearness of You








Latest responses