Hihihi, saya baru saja membaca detik.com saat menemukan sebuah berita unik.

Yang menarik adalah ini,

Namun kita terus berusaha agar batas waktu bisa diperpanjang. Kita akan menempuh berbagai cara agar Sulis yakin bahwa dialah pemenangnya.

Hmmm… baik sekali bapak-bapak itu mau repot-repot segala. Ternyata, there’s some goodness inside.

Tapi, memang ada sesuatu yang mengganjal,

Anehnya, petugas tidak menemukan Sulis di alamatnya tersebut.

Jadi, siapa menipu siapa? Hihihi.

Saya memutuskan untuk tidak ikut SNMPTN lagi. Bukan ganti jurusan, gila aja saya ninggalin elektro. Dual degree lah :razz: . Yang jelas semua biaya administrasi diambil dari kocek pribadi saya. membuat saya tidak bisa makan enak beberapa hari akh :evil:

Semua sudah siap, kartu udah oke, tempat ujian udah dicheck, penghapus oke, papan dada tinggal ambil, jam tinggal pinjem, pensil… nah ini masalahnya. Saya cuma punya satu pensil mekanik. Padahal waktu saya ngasih tips ke adik-adik kelas saya saya bilang punya minimal 5 pensil kayu :razz: .

Sayangnya waktu hari -H. Setelah berdoa pagi (jam 5.30),

Gua ga ikut SPMB!

Yasudah, malah nanti mencar-mencar kuliahnya!

Itulah respon Ibu saya saat saya bercerita bahwa saya tidak jadi ikut SPMB. Aneh sekali. Saat saya sudah siap untuk “melawan” semua orang, dukungan pertama malah dari Ibu saya yang notabene saya kira paling kecewa dengan keputusan saya tidak ikut lagi SNMPTN untuk berjuang demi masa depan yang lebih baik.

Bersyukur, belum berubah jadi batu…

ah capek… denger lagu ini biar bisa semangat lagi… :D

You alone are my strength my shield

to You alone may my spirit yield…

You alone are my heart’s desire

And I long to worship Thee…

Berbekal uang 150rb rupiah, tutu1ng mengarahkan motornya ke salahsatu bank untuk membeli formulir SNMPTN. Cepat juga selesainya.

Besoknya, dia berencana menukarkan slip dari bank dengan formulir SNMPTN di sebuah universitas penuh bidadari :P . Sialnya, sesampainya di sana,

Maaf harus pakai sepatu Mas,

Oh no, kenapa bisa-bisanya dia lupa ga pake sepatu? Akhirnya, setelah shouting di stat ym-nya, dan ngerepotin seorang temannya yang rumahnya di deket Ciumbuleuit, dia mendapatkan sebuah sepatu. Langsung masuk, mendapatkan sebuah formulir.

Di rumah, formulir tidak juga kunjung diisi. Esok pagi baru semua diselesaikan. Sambil terburu-buru dan serabutan, formulir dikembalikan. Kali ini lengkap, kemeja dan sepatu. Tak mau tutu1ng diusir lagi.

Kartu sudah di tangan, tempat ujian telah tertera. Beberapa minggu setelahnya, tutu1ng pergi sendirian mengecek tempat ujiannya. Berjalan dia dengan senyum penuh arti masuk ke almamater salah satu sahabatnya. Dan di sana, dia melihat bangkunya, tempatnya ujian besok.

Hari yang dinanti tiba, 2 Juli 2008. Dia berdoa, lalu berkata,

Aku ga jadi SPMB!

Berada di bawah membuat kita ingin berada di atas.

Sayangnya, berada di atas terlalu lama seringkali membuat kita tak tahu kalau kita sedang berada di atas.

Berada di bawah membuat kita tak lagi ingin di bawah.

Sayangnya, berada di atas seringkali membuat kita ingin semakin terbang dan kadang membuat kita tidak lagi menginjak bumi.

Tapi yang terbaik sepertinya pernah merasa di bawah dan di atas.

Karena saat di atas kita akan menghargai yang ada di bawah dan saat kita di bawah kita lebih menghargai saat-saat kita di atas.

*atas-atas-bawah-bawah-kiri-kanan-bulet :mrgreen: *

Tadi malem saya nelpon seorang teman saya. Kenapa nelpon?

Well, simply karena saya melilhat dia “berbeban berat belakangan ini”. (Related ke postingan ini)

Mungkin, saya terlalu sok-sokan ya? Ah tah tahu lah. Yang jelas saya merasa “ga enak” (baca: kasihan) melihatnya dan memutuskan untuk menghubungi. Tapi, apa yang saya dapat? Seorang yang telah kehilangan semuanya, bahkan semangatnya, namun masih tetap berusaha berdiri. Tough one…???

Dan dia memilih untuk tidak menceritakan kepada saya seluruh masalahnya…

Atau terlalu berat baginya untuk menyebutkan masalahnya?

Gimana caranya aku nolong kalo yang pengen ditolong ngerasa ga butuh pertolongan?

Tell me, what should I do?

Di sebuah dunia artifisial, di sebuah Yahoo messenger:

teman: Masih pengen cobA terus jd shaBatnya ‘dia’
teman: Tp udh terpental beberapa kali
teman: Sampe udah teler gni

Ze3: suatu waktu manusia sangat nyaman dengan manusia lain
Ze3: waktu yang lain…
Ze3: mungkin hanya tinggal dia sendiri…

so…

there shall dance the memories…

Ambil tulisan itu! Ambil kertas yang kamu buang! Ambil kertas berisi tulisan yang kamu buang itu!

Kata-kata itu terlontar dengan nada yang naik setiap kalimatnya. Terakhir saya berkata,

Ambil sekarang!

Dengan muka tidak tersenyum dan seserius namun setenang yang saya bisa. Saya memang ingin menunjukkan bahwa saya marah tegas dalam hal itu. Tidak sembarangan, samasekali tidak sembarangan. Saya mengatakan itu karena saya menganggap “dia” sudah dewasa dan sudah mengerti bahwa tindakan “membuang kertas” yang dia lakukan itu tidak pada tempatnya. Bukan pada waktunya. Bahwa memang sudah bagiannya untuk membacakan yang dia tulis, sama seperti teman-temannya. (Memangnya bagaimana saya harus menjelaskan pada teman-temannya yang lain jika saya ijinkan dia untuk tidak membacakan tulisannya? Mengapa teman-temannya tetap harus membacakan tulisan mereka?). Tapi ternyata, sekarang dia tak mau menyapa saya!

Terakhir saya berkata,

Ambil kertas itu sekarang, Yus! Ambil sana!

Kali ini dengan suara yang lebih lunak dan sengaja saya tambahkan namanya di belakang kalimat saya. Setelah dia ambil, Saya? Ya tersenyum lagi dan becanda-becanda lagi seperti biasa dan berbuat seolah tidak ada apa-apa. Tapi tetap saja…

Apakah penghargaan yang saya berikan terhadapnya kurang?

Atau… mungkin dia belum pantas mendapat penghargaan itu?

Atau… saya yang belum pantas memberikan penghargaan itu?

Apa yang menumbuhkan rasa percaya diri?

Kerja, mengerjakan sesuatu, meningkatkan pencapaian, dan belajar tentang etika kerja

Nyuci baju, nyetrika, ngepel, apa nyapu? (mungkin cuci piring…?)

*postingan ter ga penting saat ini… :mrgreen: *

What is a real world?

What does it take?

What does it want?

what is its passion?

what is its desire?

Real world adalah bagaimana menghasilkan “profit sebanyak-banyaknya”

Real world adalah bagaimana supaya “tidak defisit”

Real world adalah “memanfaatkan sumber-sumber yang ada”

Real world adalah “memanipulasi sumber yang belum ada”

Real world adalah “bagaimana menjual”

Real world adalah “bagaimana mengisi perut”

Real world adalah “silakan terlambat, perjanjian batal”

Real world adalah “be profesional”

Real world adalah “siapa cepat dia dapat”

Real world adalah “second chance? Sorry, not always there.”

Real world adalah “even kill yourself!”

Ah picik sekali…

Real world adalah “empati”

Whoa (untuk sementara) ini bakal jadi postingan ter-”gak penting” seumur hidup saya.

Saya sedang merasa ga enak hati. Mungkin karena terlalu memikirkan seseorang ya :mrgreen: ? Yang jelas perasaan saya sekarang lagi ga banget. Padahal di TV ada bola, untung tadi ada Mas Pandji yang menghibur saya dengan “kena deh”-nya. Tapi tetep aja perasaan ini tak kunjung membaik :sad: . Sekarang saya jadi tau kenapa orang bisa sakit hanya karena terlalu banyak beban pikiran, karena terlalu memikirkan orang lain. Hmmm… saya kira menulis bisa membuat saya jadi lebih baik. Guess what! It’s true (a li’l bit) :) .

Atau sedang memikirkan masa depan dan keputusan saya? Akh… ga tau.

Untung di belakang saya ada lagu ini,

You alone are my strength my shield

to You alone may my spirit yield…

You alone are my heart’s desire

And I long to worship Thee…

Salam untuk bidadariku nun jauh di sana

(sayang bukan kamu yang sedang ada di pikiranku :razz: ).

Next Page »